Selasa, 23 April 2019

Analisis Puisi Aku Karya Khairil Anwar


ANALISIS PUISI

Oleh
Nama   : Faustinus Trias Windu Aji
Kelas   : Rhetorica A
Absen  : 07
AKU
Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang 'kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang


Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari

Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi!
Judul Puisi                  : Aku
Karya                          : Khairil Anwar
Tahun                          : 1943
Tema                           : Perjuangan/patriotisme
Biografi penulis          :
Chairil Anwar ,lahir di Medan, Sumatera Utara, 26 juli 1922– meninggal di Jakarta, 28 April 1949 pada umur 26 tahun), adalah penyair terkemuka . Ia diperkirakan telah menulis 96 karya, termasuk 70 puisi .Chairil lahir dan dibesarkan di Medan, sebelum pindah Jakarta dengan ibunya pada tahun 1940 dimana ia mulai menggeluti dunia sastra. Setelah mempublikasikan puisi pertamanya pada tahun 1942.
Bagian analisis            :
a.       Bait   :
Dari puisi Khairil anwar yang terkenal ini, saya bisa menangkap perasaan Khairil Anwar. Khairil  Anwar berusaha mendeskripsikan dirinya seperti seorang pahalawan perjuangan karena pada waktu itu kemerdekaan belum dikumandangkan. Perasaan teguh untuk mendapat kemerdekaan disampaikan dalam suatu keegoan diri.
Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang 'kan merayu
Tidak juga kau”
Dalam seuntai bait pertama, ia mengungkapkan bahwa kepercayaan diri yang penuh ada dalam dirinya. Bisa dikaitkan dalam masa kemerdekaan, bahwa seorang pahlawan tak akan patah arang untuk terus maju meraih suatu kemerdekaan. Ia menunjukkan sikap yang siap sedia ketika waktu telah tiba. Walau orang lain merayu, ia tak gentar untuk tetap teguh dalam pendiriannya. Mungkin “tidak juga kau” mengartikan bahwa ada seseorang yang dekat padanya yang melarang suau usaha untuk memperjuangkan sesuatu.
“Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang”
Kata-kata itu saya bisa menangkap adanya sikap ketegaran. Walaupun ada sesuatu seperti kesenjangan dan kesendirian. Keadaan yang seperti itu bukan menjadi masalah diriya untuk tetap berjuang meraih sesuatu yang diharapkan. “buangan”, adalah sesuatau kata yang bersifat menyudutkan, namun pada kenyataannya, ia tetap saja tegar.
“Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari

Hingga hilang pedih peri”
Dari kutipan di atas, ada perasaan pantang menyerah. Meskipun banyak derita yang  menyelimuti. Semua yang adalah perasaan pilu tak membuat tokoh menyerah, melainkan tetap dalam semangat perjuangan.
“Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi!”
Khairil Anwar menunjukan sikap egonya yang menentang kenyataan. Dalam perjuangan, ia akan tetap membela dan tetap pada pendiriannya. Ia mengatasi batas waktu karena perjuangannya yang tidak mau ia sudahi. Ia tidak memperdulikan kenyataan dan mau ada dalam perjuangan terus menerus.
b.      Suasana        

Suasana yang ada dalam puisi tersebut adalah bersemangat dalam meraih perjuangan hidup yang ia maksud. Walaupun segala tantangan akan ia hadapi dan tak mungkin berlalu melewati hidupnya. Semangat yang menggebu-gebu terungkap dalam kepercayaan diri yang ada pada kata-kata dalam puisi. Egoismenya bersikap positif, ia akan mengandalkan dirinya dan melawan waktu yang ada untuk tetap berjuang dalam masa kemerdekaan.

c.       Amanat

Khairil anwar adalah orang yang penuh perjuangan dalam menggapai sesuatu yang akan ia capai. Ia memiliki sikap yang perlu diteladani bagi para pejuang masa kini, yaitu pemuda bangsa. Segala perjuangan dalam kemerdekaan telah dinyatakan lewat puisi yang penuh makna. Perjuangannya menjadi hal yang patut dicontoh untuk tetap menjaga kemerdekaan bangsa.
Namun, keegoan diri juga harus menjadi salah satu hal yang perlu dipertahankan selagi hal itu menjadi satu cara untuk memperjuangkan sesuatu kebaikan. Walau waktu telah berbicara namun perjuangan itu harus tetap ada. Kemajuan jaman akan menjadi wadah untuk para pemuda berjuang menggapai cita-cita.


Catatan Kaki  
https://blogbahasa-indonesia.blogspot.com/2018/03/analisis-makna-puisi.html

1 komentar: